Ancaman PHK dan Kemiskinan di Sumut Jelang Mayday 2026, Ajak Semua Pihak Tetap Optimis

Ketegangan yang terjadi di Timur Tengah, terutama konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, berpotensi memicu guncangan politik dan ekonomi yang meluas, termasuk dampak yang dirasakan di Indonesia, khususnya di Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Dalam konteks ini, semua elemen masyarakat diharapkan untuk bersatu dan bekerja sama agar dapat mengatasi situasi sulit yang ada saat ini.
Situasi Ketenagakerjaan di Sumut: Stabil namun Waspada
Walaupun keadaan ketenagakerjaan di Sumut saat ini terlihat relatif stabil, para pemangku kepentingan dan pemerintah diingatkan untuk tetap waspada terhadap kemungkinan tekanan yang mungkin muncul di masa depan. Menurut Dr. Minggu Saragih, Kepala Departemen Hubungan Industrial dan Ketenagakerjaan Asosiasi Profesor Doktor Hukum Indonesia Wilayah Sumatera, kondisi ini tidak boleh diabaikan.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah angkatan kerja di Sumut pada November 2025 tercatat mencapai 8,42 juta orang, mengalami sedikit penurunan dibandingkan bulan Agustus pada tahun yang sama. Sementara itu, jumlah penduduk yang bekerja mencapai 7,971 juta orang, dengan sektor pendidikan mencatatkan peningkatan paling signifikan. Sekitar 3,351 juta orang, atau 42,04%, dari total angkatan kerja terlibat dalam sektor formal.
Tingkat Pengangguran dan Kemiskinan
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Sumut juga menunjukkan angka yang cukup baik, tercatat pada angka 5,28%, dengan sedikit penurunan dibandingkan dengan periode sebelumnya. Di Kota Medan, TPT tercatat di angka 7,99%, yang turun sebesar 0,14% menurut data BPS Kota Medan per Desember 2025.
Di sisi lain, angka kemiskinan di Sumut menunjukkan tren penurunan yang positif. Pada bulan September 2025, persentase penduduk miskin tercatat sebesar 7,24%, mengalami penurunan sebesar 0,12 poin dibandingkan dengan Maret 2025. Penurunan ini setara dengan berkurangnya sekitar 12,2 ribu jiwa, sehingga total penduduk miskin di Sumut menjadi 1,13 juta orang.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Sumut 2026
Dari aspek ekonomi, Sumut mencatat pertumbuhan sebesar 4,23% pada triwulan IV tahun 2025 jika dibandingkan secara tahunan (year-on-year). Dr. Minggu Saragih memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi Sumut pada tahun 2026 akan berada di kisaran 4,9% hingga 5,8%, menjadikannya sebagai salah satu penggerak utama ekonomi di Pulau Sumatera.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh berbagai program strategis, termasuk Asta Cita, investasi, dan program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta sektor-sektor unggulan seperti pertanian, industri pengolahan, dan perdagangan. Selain itu, pelaksanaan program biodiesel B50 diharapkan dapat meningkatkan permintaan terhadap crude palm oil (CPO).
Pentingnya Program Strategis dan Investasi
Dr. Minggu menekankan bahwa efektivitas program Asta Cita, dari MBG hingga paket stimulus yang mendukung daya beli masyarakat serta iklim investasi yang relatif kondusif di Sumatera Utara, mulai menunjukkan hasil. Target investasi di beberapa kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus pun mengalami peningkatan yang signifikan.
Namun, ia juga memperingatkan agar pemerintah pusat dan daerah tetap waspada terhadap dampak lanjutan dari ketegangan geopolitik global, yang berpotensi memperlambat ekonomi negara-negara mitra dagang utama seperti Amerika Serikat, negara-negara di Timur Tengah, dan Tiongkok.
Strategi Pembangunan dan Peningkatan Keterampilan
Dalam menghadapi tantangan yang ada, pemerintah dan para pemangku kepentingan diminta untuk memperkuat faktor-faktor pendukung, seperti peningkatan keterampilan tenaga kerja dan pembangunan infrastruktur yang terhubung dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Peningkatan skill tenaga kerja dan pembangunan infrastruktur yang terintegrasi dengan kawasan industri dan ekonomi khusus sangatlah penting.
- Peningkatan keterampilan tenaga kerja
- Pembangunan infrastruktur yang mendukung
- Pengembangan kawasan industri
- Kolaborasi antara sektor publik dan swasta
- Peningkatan akses pasar bagi produk lokal
Dr. Minggu juga menyoroti peran strategis Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei yang memiliki potensi besar sebagai motor penggerak ekonomi daerah. Data dari PT Kawasan Industri Nusantara (PT Kinra) menunjukkan bahwa sejak beroperasi pada tahun 2015 hingga kuartal III tahun 2025, KEK Sei Mangkei telah merealisasikan investasi sebesar Rp25,97 triliun dan menciptakan 7.856 lapangan kerja.
KEK Sei Mangkei: Motor Penggerak Ekonomi
Dengan strategi yang tepat, KEK Sei Mangkei diyakini tidak hanya akan menjadi penggerak ekonomi, tetapi juga simbol transformasi regional menuju kawasan yang modern dan berdaya saing global. Dr. Minggu menegaskan bahwa dengan terciptanya kondisi yang kondusif, akan tercipta ketenangan dalam berusaha dan kenyamanan dalam bekerja.
Kolaborasi untuk Menghadapi Tantangan ke Depan
Dalam konteks ini, kolaborasi antara seluruh pihak menjadi sangat penting. Pemerintah daerah, dunia usaha, serikat pekerja, akademisi, dan masyarakat sipil harus bersatu dan berkomitmen untuk mencapai tujuan bersama. Dr. Minggu menekankan bahwa peran Pemprov Sumut, organisasi perangkat daerah (OPD), dunia usaha, serikat pekerja, akademisi, media, dan organisasi masyarakat sipil sangatlah penting untuk berkolaborasi, menyatukan pemikiran, dan tindakan.
Menjelang May Day 2026, harapan untuk kesejahteraan buruh dan kemajuan dunia usaha semakin menguat. Dr. Minggu mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama merayakan Hari Buruh Internasional dengan semangat optimisme dan kolaborasi yang kuat.
“Selamat Hari Buruh Internasional 1 Mei 2026. Semoga buruh dan pekerja sejahtera, dunia usaha berjaya, dan negara kita semakin maju dan kuat,” tutupnya.
